Candi Cetho

Mencari Ketenangan Diri di Dataran Tinggi
Dusun Cetho, Gumeng, Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57794
Butuh perjuangan ekstra untuk mencapai Candi yang satu ini. Namun pemandangan dan pengalamannya membuat kita selalu ingin kembali. Apalagi lokasi ini merupakan spot sunset idaman untuk sebuah kenangan yang sangat berkesan.

oleh Jumat, 28 Juni 2019Wisata Candi0 Komentar

Sunset di Candi Cetho by Rezanuraulia

Tiket masuk Candi Cetho

Turis domestik: Rp 7.500
Turis mancanegara: Rp 25.000
Kain Kampuh: Sukarela

Jam Buka Candi Cetho

Senin – Minggu: 07.00-17.00

Cetho dalam bahasa Jawa berarti jelas atau bening. Candi Cetho terletak di lereng Gunung Lawu tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Candi Cetho memiliki panjang 190 m dan lebar 30 m dan berada pada ketinggian 1496 mdpl.



Saat Jejaka memacu kendaraan ke arah timur Karanganyar, Sinar matahari masih sembunyi dibalik Gunung Lawu, udaranya masih terasa dingin dan berkabut. Perjalanan awal Jejaka begitu menyenangkan, belum banyak tanjakan yang berarti.

Setelah melewati pasar Karangpandan belok kiri mengambil jurusan ke Ngargoyoso barulah ketegangan mulai terasa. Meski mata kita dimanjakan dengan perkebunan teh yang hijau dan seolah tidak ada batasnya selama perjalanan, tapi jalan aspal yang sempit, menanjak curam, dan berkelok-kelok sering kita jumpai.

Gerbang masuk ke Candi Cetho Instagram @agusw1730

Namun itu tidak berlangsung lama, rasa was-was dan takut akan terbayar lunas begitu menginjakkan kaki di kompleks candi. Oh ya sekadar info buat sobat Jejaka yang ingin melakukan perjalanan ke sini. Usahakan kendaraan kalian dalam keadaan prima.

Sejuknya udara pegunungan dan indahnya pemandangan alam menjadi teman setia selama menjelajahi Candi Cetho. Kita akan langsung melihat gapura yang berdiri menjulang di bawah langit seakan-akan mengingatkan kita pada gapura-gapura di Pulau Dewata Bali.

Suasana sore hari di Candi Cetho Instagram @travel_indonesian

Dua buah patung penjaga pra sejarah berdiri membisu dibawahnya. Candi Cetho membentang di lahan berundak yang dibangun pada akhir kekuasaan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Brawijaya V.

Candi Cetho ditemukan seorang arkeolog Belanda yang bernama Van de Vlies sekitar tahun 1842. Pertama kali ditemukan keadaan Candi Cetho sangat memprihatinkan, hanya terdapat 14 teras dengan kondisi batuan sudah ditutupi oleh lumut. Pemugaran selanjutnya dilakukan oleh Humardani seorang asisten pribadi Presiden Soeharto pada tahun 1970.

Kabut menyelimuti Candi Cetho Instagram @lonardika

Di salah satu terasnya terdapat susunan batu dengan pahatan berbentuk matahari menggambarkan Surya Majapahit, yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit. Candi ini pertama kali ditemukan sebagai reruntuhan batu dengan 14 teras berundak. Namun sekarang hanya tertinggal 13 teras, 9 diantaranya telah dipugar.



Sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa, candi ini dihiasi dengan arca phallus yang menjadi symbol Siwa. Terdapat juga patung Brawijaya V serta penasehatnya dan susunan batu berbentuk lingga dan yoni berukuran dua meter. Bangunan utama berada di teras paling atas.

Saat-saat tertentu Candi Cetho masih sering digunakan para penganut agama Hindu dan warga sekitar untuk melakukan peribadatan di tempat ini. Mereka meletakkan sesajen di arca-arca kemudian naik ke teras tertinggi untuk ritual keagamaan.

Salah satu sudut tempat yang masih digunakan untuk peribadatan di Candi Cetho

Harum bunga sesaji dan dupa ditambah dengan kabut yang sering turun menyelimuti area candi memberi kesan mistis. Sangat beruntung sekali bagi para pengunjung yang kesana berbarengan dengan ritual keagamaan seperti yang Jejaka jumpai waktu berkunjung ke Candi Cetho.

Rute Menuju Lokasi Candi Sukuh

Dari Palur – Melewati Jalan Lawu – ambil Jurusan Karangpandang – sekitar 500m belok kiri jurusan Kebun teh Kemuning – Setelah gapura Kawasan Candi Sukuh belok kiri – Ikuti papan penunujuk arah

JELAJAH CANDI

Pin It on Pinterest

Share This